Sejarah Kelam Gunung Krakatau Yang Wajib Kamu Ketahui


Pada masa kolonial, Gunung Krakatau meletus lagi pada 27 Agustus 1883. Mulanya terdengar guntur dan halilintar di malam sebelumnya. Saat itu ledakannya terdengar sampai Singapura dan Australia. Erupsinya menyebabkan endapan seluas 827 ribu kilometer persegi dengan dan memuntahkan batu apung dan abu dengan ketinggian 70-80 km.

Sebelum meletus dahsyat, Gunung Krakatau menunjukkan tanda-tanda, yakni sempat meletus setelah tidak ada aktivitas selama 200 tahun. Pada 20 Mei, gempa dan materi keluar akibat aktivitas vulkanik. Saat itu, Gunung Perbuatan juga menunjukkan gejala-gejala erupsi. Pada Juni, Gunung Danan juga menunjukkan erupsi. Pada 11 Agustus abu mulai muncul. Hingga puncaknya pada 27 Agustus. Letusan besar itu berlangsung selama 4,5 jam.

Lampung dan Banten paling terkena imbasnya. Ratusan desa di sekitaran pulau Jawa dan Sumatera juga diterjang tsunami. Bahkan, dari sumber lain mengatakan korban jiwa dari letusan itu sebanyak 36 ribu hingga 120 ribu jiwa. Korban meninggal karena terkena awan panas dan tsunami.

Letusan juga menyebabkan awan pekat yang hampir menyelubungi seluruh dunia selama bertahun-tahun. Siang dan malam tidak nampak karena matahari tertutup awan pekat. Pun beberapa kejadian ganjil juga terjadi sebelum terjadi letusan tersebut. Pada waktu silam, teknologi tidak mampu mendeteksi bahaya yang ditimbulkan akibat adanya aktivitas erupsi sebelumnya.

Gunung Krakatau masih mengalami berbagai erupsi setelahnya. Ledakan itu hampir memakan sebagian besar tubuh Gunung Krakatau dan menyisakan tubuh setinggi 813 meter saja. Namun, tidak sampai situ. Gunung Krakatau melahirkan seorang anak, yakni Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau memiliki karakter yang sama dan juga merupakan gunung vulkanik yang aktif.

Gunung Anak Krakatau hanya sebesa kurang dari 30% dari tubuh ibunya. Meski begitu, ia tetap menyimpan potensi bahaya yang sama besar dengan Gunung Krakatau. Akibat ledakan pada 1883, tubuh Gunung Krakatay hancur sekitar 60%. Kawah besar itu masih aktif dan melahirkan gunung baru pada 1927.

Krakatau tumbuh dengan cepat. Layaknya seorang anak, pada awalnya gunung bertambah tinggi sekitar 6 hingga 12 meter. Kemudian, pertumbuhannya melambat. Saat ini, setiap bulan tingginya bertambah sekitar 0,5 meter.

Dalam waktu 73 tahun, Gunung Anak Krakatau erupsi besar tetapi belum membahayakan sekitar lebih dari 11 kali. Semenjak 2018, aktivitas Gunung Krakatau mengalami peningkatan. Lalu terjadilah tsunami di Selat Sunda akibat longsoran tubuh gunung di dalam laut sebesar 80 juta ton. Tsunami terjadi pada 22 Desember 2018 dan menewaskan ratusan jiwa.

Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung vulkanik yang aktivitasnya tinggi, seperti Gunung Merapi. Akibat longsoran itu, tubuh gunung tersebut sekarang hanya berkisar 110 meter di atas permukaan laut.

Gunung Anak Krakatau meletus pada 10 April 2020 lalu. Gunung tersebut tidak pernah meletus sejak 1883. Memang, sebelumnya hanya nampak aktivitas vulkaniknya saja. Tetapi tidak sampai meletus.

Berikut video Sejarah kelam gunung krakatau

 

Kredit : Sakha Tama

Kirim Komentar

Info Sebelumnya Info Berikutnya