Fakta tentang film Tenggelamnya kapal Van Der Wijk


Kredit foto by Hotstor


Hai good people, apakah kamu pernah tau film tentang Tenggelamnya kapal Van der Wijk?. Jika kamu pernah melihat film ini atau membaca Novelnya, pasti kamu akan terkesan dengan alur cerita novel ini. Novel arya Buya Hamka ini berkisah tentang kisah cinta antara Hayati dan Zainudin.


Nah kali ini aku akan membedah novel ini dan akan menguak kisah dibalik pembuatan novel ini yang banyak menuai kontroversial. Novel fiksi yang di buat di atas peristiwa nyata tenggelamnya kapal Van der Wijk ini menyita banyak sekali pembaca, Kisah yang dibuat dengan apik dan dengan polesan karya-karya sastrawan dari sang tokoh Zainudin, membaut para pembaca terkesima dibuatnya. Simak penjelasan fakta dibalik pembuatan Novel ini.


Sejarah Novel

Tenggelamnya Kapal Van der Wijk ini bermula dari sebuah cerita bersambung yang dimuat di dalam surat kabar, tetapi karena banyak masyarakat Indonesia yang suka pada cerita itu sampai menjadi fenomena dikala itu, Hamka mengambil keputusan untuk mengangkatnya menjadi sebuah novel. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1939. 

Monumen Van Der Wijk


Kredit foto by berita.jatim.com

Hamka menulis novel ini berdasarkan pada kisah nyata mengenai kapal Van der Wijk yang berlayar dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Tanjung Priok, Jakarta, serta tenggelam di laut Jawa, timur laut Semarang, Pada 21 Oktober 1936. Peristiwa itu lalu diabadikan dalam sebuah monumen bersejarah bernama Monumen Van Der Wijk yang dibangun pada tahun 1936 di Desa Brondong, Kecamatan Brondong, kabupaten Lamongan, sebagai tanda terima kasih masyarakat Belanda pada para nelayan yang sudah banyak membantu ketika kapal itu tenggelam. Serta Hamka mengabagikannya dalam sebuah Novel.

Kontrofersial Novel 

Keberhasilan Novel ini ternyata memperoleh cobaan, Novel masterpiece Buya Hamka ini dituduh sebagai plagiat dari novel luar negeri berjudu Sous les Tilleuls (1832) karya Jean Baptiste Alphonse Karr. Tetapi kabar itu segera hilang serta dibantah oleh Hamka. Para Kritikus serta sastrawan dunia juga turut membela kalau tak ada kesamaan yang banyak serta mencolok pada Novel Hamka itu dengan Novel Jean-Baptise dan mengatak kalau Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk memiliki tema yang murni dari Indonesia.

Kapal Van Der Wijk juga kisah cinta yang sama tetapi sekaligus kisah mengenai kesusastraan di pentas pertarungan politik. Belum pernah ada perdebatan yang demikian keras mengenai satu novel melebihi karya Hamka ini. Novel ini dituduh sebagai plagiat dari novel Majdulin karya Mustofa Lutfi al Manfaluti (sastrawan Mesir), yang merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls (Di  Bawah Pohon Tilia) karya Alphonse Karr (sastrawan Perancis).

Kesamaan Novel

Novel ini hampir sama ceritanya dengan novel Siti Nurbaya, bercerita mengenai cinta yang tidak sampai. Kepiawaian Hamka dalam mengemukakan kritiknya atas tradisi bisa jadi melanjutkan kesuksesan pendahulunya Marah Rusli dalam roman Siti Nurbaya yang melegenda itu. Keduanya juga sama-sama berkisah berujung kematian tokoh-tokoh utamanya. Bedanya, Siti Nurbaya menyebabkan dampak yang sangat kuat serta melewati jaman karena ide ceritanya itu sendiri, sementara Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk melahirkan guncangan keras karena kontroversi yang mengikuti ide cerita. Siti Nurbaya yaitu kisah cinta di atas panggung tradisi.

Awal kisah Novel

Tokoh utamanya, Zainuddin, yaitu anak dari Pendekar Sutan yang diasingkan ke Cilacap karena membunuh mamknya dalam suatu perselisihan harta warisan. Sesudah bebas ia pergi ke Makassar dan di kota inilah lahir Zainuddin. Sesudah orangtuanya wafat, Zainuddin pergi ke Batipuh, Padang Panjang, yang disebut kampaung halaman ayahnya. Sayangnya, disana ia tak diperlakukan dengan baik karena dianggap bukanlah anak Minang. Maklum meskipun ayahnya seorang Minang, ibunya orang Bugis sehingga putuslah pertalian darah menurut garis matriliear yang bernasabkan pada ibu.

Meskipun demikian, Zainuddin menjalin cinta dengan Hayati, gadis Minang yang prihatin pada nasibnya serta sering mencurahkan kesedihan hatinya pada Hayati. Sebagai gadis keturunan bangsawan, sudah pasti keluarga Hayati mencegahnya berhubungan dengan Zainuddin yang bukanlah orang Minang serta tidak jelas juga masa depannya. keluarga Hayati memilih Aziz yang asli Minang serta datang dari keluarga terpandang. Hayati harus tunduk pada kesepakatan keluarga, meskipun hatinya condong pada Zainuddin.

Inti permasalahan

Zainuddin menggap Hayati sudah berkhianat. Pada akhirnya dengan membarwa perasaan luka, ia pergi ke Jakarta, lalu pindah ke Surabaya. Sementara itu Hayati serta Aziz yang sudah menikah juga pergi ke Surabaya serta tinggal di sini karena alasan pekerjaan. Tanpa sengaja, dalam suatu acara keduanya berjumpa dengan Zainuddin yang sudah menjadi orang berhasil. Sedangkan kehidupan ekonomi Aziz serta Hayati semakin lama makin memburuk. Aziz jatuh miskin, sampai ia serta istrinya harus menumpang di rumah Zainuddin. Tidak tahan menahan penderitaan, Aziz pada akhirnya bunuh diri dan terlebih dulu meninggalkan pesan agar Zainuddin melindungi Hayati.

Penyelesaian

Zainuddin yang pernah dikhianati merasa sulit untuk menerima kembali Hayati. Persaan cinta yang masih menyala dicoba untuk dipadamkan. Bahkan juga ia meminta Hayati untuk kembali ke kampung halaman di Batipuh, meskipun wanita itu merajuknya. Hayati pun pulang dengan menumpang kapal Van Der Wijk. Tetapi nasib malang menimpanya, kapal yang ditumpanginya tenggelam di Laut Jawa. Zainuddin yang mendengar berita itu segera menuju rumah sakit di Tuban. Sayang nyawa Hayati tidak bisa diselamatkan. Sejak peristiwa itu Zainuddin sering mengalami sakit hingga pada akhirnya meninggal dan dimakamkan di samping pusara Hayati.

Kesimpulan

Ujung cerita tragis tampaknya menjadi pilihan untuk menyampaikan pesan kalau cinta yang merupakan pangkal kebagaiaan seseorang sering dikorbankan untuk martabat keluarga atau keturunan. Novel ini ditulis sebagai kritik terhadap beberapa tradisi dalam adat Minang, yang tidak sesuai dengan beberapa dasar Islam maupun akal budi yang sehat. Penulisnya sangat berwenang melakukan itu karena ia hidup dalam kumparan masa itu. Sehingga ia tidak hanya merekam sejarah, tetapu juga sang pelaku yang fasih dengan kultur masyarakat Minang serta peruabahannya pada jama itu.


Seru kan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk ini? untuk penjelasan yang lebih jelas aku tambahkan video dibawah ini!.



Kredit Video by Achel Lavista

Kirim Komentar

Info Sebelumnya Info Berikutnya