Kisah Amangkurat I dan II dari Kesultanan Mataram


Sebuah persidangan di kerajaan menggemparkan rakyat dan pejabat VOC. Dua pangeran Mataram, Pangeran Adipati Anom dan Pangeran Singasari, menjadi aktor utama persidangan. Kasus yang diperkarakan ketika itu adalah pembunuhan putra Pangeran Pekik, Raden Dobras, yang mayatnya ditemukan di dalam sebuah sumur.

Dalam persidangan yang menghadirkan Sunan Mataram Amangkurat I itu, Putra Mahkota menuduh adiknya sebagai pembunuh Raden Dobras. Menurut kesaksiannya, suatu malam Pangeran Singasari mengundang korban makan malam dan setelah itu tidak pernah kembali pulang. Pangeran Singasari menyangkal pernyataan kakaknya itu. Menurutnya pada malam tersebut, setelah pulang dari masjid, Pangeran Singasari menjumpai seorang pencuri masuk ke rumahnya. Tanpa mengenal siapa pencuri tersebut, Pangeran Singasari langsung membunuhnya.

Setelah mendengar penjelasan kedua pangeran Mataram, persidangan menghadirkan para abdi istana Singasari. Amangkurat I lalu bertanya kepada mereka mengenai keributan yang terjadi saat malam pembunuhan. Tetapi para abdi mengatakan jika malam itu mereka tidak mendengar ada keributan atau tanda bahaya apapun. Sebagaimana tradisi yang berlaku di Mataram kala itu, setiap ada keributan pasti ada bunyi bende sebagai tanda bahaya.

Hari-hari Terakhir Amangkurat I

Mendengar jawaban para abdi, Amangkurat I menyatakan jika putranya tidak bersalah. Seandainya ada keributan para abdi yang seharusnya bertugas membunyikan tanda bahaya. Karena tidak dibunyikan artinya memang tidak ada keributan malam itu. Persidangan pun ditutup. Namun tidak lama setelah itu, Amangkurat I mengeluarkan titah yang tidak masuk akal. Melalui seorang mantri terkemuka, Sunan mengeluarkan titah agar 34 abdi Pangeran Singasari dibunuh di alun-alun.

Keputusan terakhir itu sungguh menimbulkan keheranan. Ternyata bahwa kematian 34 orang pengikut Pangeran Singasari itu bukanlah berdasarkan hukum pengadilan, tetapi merupakan pembunuhan. Mengenai kisah sebenarnya dalam peristiwa pembunuhan tersebut tidak pernah ada yang tahu. Bahkan di antara kedua pangeran pernyataan siapa yang bisa dipercaya juga tidak bisa ditebak. 

Mengingat ketika persidangan dilakukan, keduanya sedang terlibat masalah persaingan kekuasaan di sejumlah daerah milik pemerintahan Mataram. Mereka bisa saja saling menjatuhkan untuk melemahkan satu sama lain.

Namun Babad Tanah Jawi pernah menceritakan peristiwa pembunuhan tersebut.  Pemicunya adalah Raden Dobras melakukan serong dengan istri Pangeran Singasari, Raden Ayu Singasari. Tidak hanya dengan putra Pangeran Pekik, sang istri juga memiliki kekasih lain, yakni Pangeran Adipati Anom.

Ketika Cemburu Membakar Amangkurat I

Setelah mendapat informasi tersebut, imbuh Meinsma, Pangeran Singasari lantas mengundang Raden Dobras. Dia lalu membawanya ke sebuah kebun di pegunungan. Di tempat itulah Raden Dobras dibunuh. Mayatnya kemudian dilemparkannya ke dalam sumur. Keesokan harinya, Pangeran Pekik meminta seseorang mencari putranya. Dia pun mendapati putranya telah menjadi mayat.

Rupanya tidak hanya cerita tutur saja yang mencatat peristiwa pembunuhan tersebut. Sebuah laporan dari pejabat pemerintahan Belanda di Mataram juga merekamnya. kisah perselisihan dua pangeran itu cukup terkenal di kalangan orang-orang Belanda.

Berikut video Kisah amangkurat I dan II


Kredit : Kata Arkeolog

Kirim Komentar

Info Sebelumnya Info Berikutnya